Tampilkan postingan dengan label Rokok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rokok. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Februari 2013

Dari Pak Taufik Ismail Tentang Rokok | INDONESIA KERANJANG SAMPAH NIKOTIN

Indonesia adalah sorga luarbiasa ramah bagi perokok
Kalau klasifikasi sorga ditentukan oleh jumlah langit yang melapisinya

Maka negeri kita bagai maskapai rokok, sorga langit ketujuh klasisikasinya

Indonesia adalah keranjang besar yang menampung semua sampah nikotin
Keranjang sampah nikotin ini luar biasa besarnya
Dari pinggir barat ke pinggir timur,

Jarak yang mesti ditempuh melintasi 3 zona waktu
Yaitu 8 jam naik pesawat jet,
10 hari kalau naik kapal laut,
Satu tahun kalau naik kuda sumba,
Atau 5 tahun kalau saban hari naik kuda kepang Ponorogo

Keranjang sampah ini luar biasa besarnya
Bukan saja sampah nikotin, tapi juga dibuangkan ke dalamnya
Berjenis cairan, serbuk, berbagai aroma dan warna
Alkohol, heroin, kokain, sabu-sabu, ekstasi, dan marijuana
Berbagai racun dan residu, erotisme dan vcd biru
Sebut saja semua variasi klasifikasi limbah dunia
Mulut Indonesia menganga menerimanya

Semua itu, karena gerbang di halaman rumah kita terbuka luas,
Kita tergoda oleh materialisme dan disuap kapitalisme
Fikiran sehat kita kaku dan tangan kanan kiri terbelenggu
Dengan ramah dan sopan kiriman sampah itu diterima

Di depan pintu bandara, karena urgennya modal mancanegara,
Karena tak tahan nikmatnya komisi dan upeti,
Dengan membungkuk-bungkuk kita berkata begini,
“Silakan masuk semua, silakan
Monggo, monggo mlebet, dipun sakecakaken
Sog asup sadayana, asup, asup
Ha lai ka talok, bahe banalah angku, bahe banalah.”

Keranjang sampah ini luar biasa kapasitasnya
Pedagang-pedagang nikotin yang di negeri asalnya
Babak belur digebuki pengadilan bermilyar dolar dendanya
Ketahuan penipunya dan telah membunuhi jutaan pengisapnya
Diusir terbirit-birit akhirnya berlarian ke dunia ketiga
Dan dengan rasa rendah diri luar biasa
Kita sambut mereka bersama-sama
“Monggo, monggo den, linggih rumiyin
Ngersakaken menopo den bagus
Mpun, ngendiko mawon
Aih aih si aden, kasep pisan
Tos lami, sumping, di dieu, Indonesia?
Alaa, rancak bana oto angku ko
Sabana rancak
Baa caronyo kami, supayo.”

Demikianlah dengan rasa hormat yang lumayan berlebihan
Para pedagang nikotin dari negeri jauh di tepi langit sana
Penyebar penyakit rokok dan pencabut nyawa anak bangsanya
Terlibat pengadilan dan tertimbun bukti
Di negeri sendiri telah diusiri dan dimaki-maki
Ke dunia ketiga mereka melarikan diri
Pabrik-pabrik mereka ditutup di negeri sendiri
Lalu didirikan di Dunia Ketiga, termasuk negeri kita ini

Di depan hidung kita penyakit dipindah ke sini
Dan untuk mereka kita hamparkan merahnya permadani
Lalu bangsa kita ditipu dengan gemerlapannya advertensi
Inilah nasib bangsa yang miskin dan pemerintah yang lemah
Semua bertumpu pada pemasukan uang sebagai orientasi

Dari Pak Taufik Ismail Tentang Rokok | PEROKOK ADALAH SERDADU BERANI MATI

Para perokok adalah pejuang gagah berani.
Berada di dekat kawan-kawan saya perokok ini.
Saya serasa berdampingan dengan rombongan serdadu berani mati.
Veteran dua Perang Dunia, Perang Vietnam, Perang Revolusi Dan Perang Melawan Diri Sendiri.

Perhatikanlah upacara mereka menyala belerang berapi.
Dengan khimadnya batang tembakau dihunus dan ditaruh antara dua jari.
Dengan hormatnya Tuhan Sembilan Senti.
Disisipkan antara dua bibir, digeser agak ke tepi.
Sementara itu sudah siap An Naar, nyala api sebagai sesaji.

Hirupan pertama dilaksanakan penuh kasih sayang dan hati-hati.
Kemudian dihembuskan asapnya, ke kanan atau ke kiri.
Mata pun terpicing-picing tampak nikmat sekali.
Berlindung pada adiksi dari tekanan hidup sehari-hari.
Lena kerja, lupa politik, mana ingat anak dan isteri.

Para perokok adalah serdadu-serdadu gagah berani.
Untuk kenikmatan 5 menit mereka tidak peduli 25 macam penyakit yang dengan gembira menanti-menanti.
Saat untuk menerkam dari setiap penjuru dan sisi.

Paru-paru obstruksi kronik bronkhitis kronik dan emfisema.
Gangguan jantung pembulu darah arteriosklerosis hipertensi dan gangguan pembulu darah otak.
kanker rongga mulut, nasopharynx, oropharynx, hypopharynx dan rongga hidung.
Lalu sinus paranasal, larynx, esophagus dan lambung.
Radang pankreas, hati, ginjal, ureter dan kandung kemih.
Radang cervix uteri dan sumsum tulang, infertilitas dan impotensi.
Daftar ini belum disusun secara alfabetis, dan sebenarnya (ini rahasia profesi medis) penyakit yang 25 ini cuma nama samaran julukan pura-pura saja.

Nama aslinya penyakit rokok.

Rokok, abang kandung narkoba ini tak tertandingi dalam soal adiksi.
4000 macam racun didapatkan sepanjang sembilan senti.
Untuk orgamus nikotin 5 menit itu serdadu tembakau ini mana peduli terhadap hari depan anak-anak yang masih memerlukan pencarian rezeki.
Terhadap bagaimana terlantarnya kelak janda yang dulu namanya isteri.
Atau nasib duda yang dulu namanya suami.
Terhadap pengotoran udara depan belakang, kanan dan kiri.
Dalam memuaskan ego, dengan sengaja mendestruksi diri pribadi.

Betapa beratnya memenangkan Perang Melawan Diri Sendiri.

Selamat Jalan Mba Dewi Husmawati | Tentang Kanker Paru-Paru dan Pemicunya

"Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS"

-- Tuhan 9 Cm | Taufik Ismail --


Diatas adalah sepenggal sajak karya Taufik Ismail mengenai gaya hidup masyarakat Indonesia yang begitu lekat dengan rokok. Sungguh kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa perokok pasif hanya menerima sampahnya saja dari para perokok yang tidak bertanggung jawab. Apapun dalih yang dibuat oleh para perokok buat saya akan selalu ada jawaban logis yang bisa mematahkannya. 

Hari ini, saya baru saja kehilangan satu teman untuk selama-lamanya karena mengidap kanker paru-paru, Dewi Husmawati. Tidak sampai 1 tahun perjuangannya melawan kanker, dia menyerah dengan meninggalkan 1 anak perempuan yang masih berusia sekitar 6 tahun. Usianya baru 39 tahun, dia harus merelakan berpisah dengan keluaganya selama berbulan-bulan, menjalani perawatan di rumah sakit Persahabatan Rawamangun. Saat saya menjenguknya sekitar 2 minggu yang lalu di rumah sakit, kondisi mba Dewi sudah sangat menurun akibat menjalani 7 kali kemoterapi, seharusnya masih ada 4 kali jadual kemo yang harus ia jalani, namun Allah keburu memanggilnya. Mungkin inilah yang terbaik untuk mba Dewi dan keluarga, terlalu perih melihat penderitaannya. Bukan saja materil tapi juga moril yang harus dikorbankan. 
Mba Dewi bersama anak semata wayang dan suami
Menurut penuturan mba Dewi, penyakit kankernya diketahui bermula dari rasa sakit didada yang ia rasakan dan seperti sesak nafas sekitar 2 minggu, sempat dia berfikir ini adalah gejala masuk angin biasa, namun setelah tidak kunjung sembuh dia memeriksakan diri ke rumah sakit guna mendapatkan informasi yang lebih akurat lagi. Setelah di scan ternyata terlihat dengan jelas bulatan kanker mengganjal disela paru-parunya. Sebelumnya dia tidak merasakan gejala apapun. Mba Dewi memang memiliki bibit kanker dari orang tuanya, seperti hal saudarinya yang lain meninggal akibat kanker, namun tentu ada faktor yang memicu pertumbuhan bibit ini. Berbagai kemungkinan penyebab pemicunya sudah ditelaah dan Dr sampai pada kesimpulan bahwa aktifitas sebagai perokok pasiflah yang menjadi penyebabnya. 
Mba Dewi sekitar 2 minggu lalu

Meskipun dengan pengorbanan yang begitu besar, masih tidak ingin menyalahkan siapapun, dia berpesan, agar jangan sampai ada lagi korban sepertinya terutama untuk teman-teman satu kantor. Sambil mengingat-ngingat, mba Dewi bercerita, kehidupan saya lebih banyak didalam kantor ketimbang diluar, setiap hari saya didalam kantor, dirumah orang tua saya tidak merokok, saya gak doyan minum minuman bersoda. Ini adalah efek kebiasaan buruk yang berawal dari 10 hingga 14 tahun yang lalu, ruangan kantor penuh dengan asap rokok, si anu  ngerokok didepan muka saya (orang-orang yang tergolong kalangan elite di kantor), lalu gimana saya bisa menghentikan mereka? (sungkan karena yang merokok adalah tamu kehormatan, jajaran direksi dll yang sejenisnya), asap ngebul kemana-mana, ruangan ber AC, tertutup, mereka pada lari keruangan kerja saya karena diruangan lain tidak bisa merokok, tempat saya dijadikan basecamp para perokok.

Saya bingung harus ngomong apa dan menjawab apa ke mba Dewi, terbesit kengerian yang sangat didalam jiwa saya, bagaimana jika cobaan seberat ini menimpa pada saya, bagaiman anak-anak saya, suami, siapa yang akan mengurus mereka, saya masih sangat ingin bersama mereka untuk waktu yang lama, saya masih sangat mencintai  mereka dan belum mau berpisah, bagaimana dengan biaya rumah sakit, dari mana uang untuk membiayainya, mana enak kalau kita harus menyusahkan suami, orang tua, teman-teman yang menjenguk dan menunggui kita kita dirumah sakit, lalu saya tidak bekerja dan melakukan aktifitas, merasakan pegal disekujur tubuh karena terus berbaring dan sakit luar biasa saat di kemo, bukan hanya sekali tapi berkali-kali, rambut yang tadinya panjang lalu rontok tanpa tersisa sehelai pun, dan yang paling mengerikan adalah bahaya itu masih mengacam disekitar saya. Masih banyak orang-orang berdasi dan sangat intelek ini yang mengepulkan sampah-sampah nikotin diruangan kantor. Saya sungguh tidak mengerti apa yang ada dibenak mereka-mereka para smoker ini, sudah ada larangan, sudah ada korban, tapi maaaaaaaaaaaaasih juga membandel. Kemana sich perginya hati nurani mereka.

Mati memang urusan yang diatas, begitu juga rejeki, jodoh serta takdir. Tapi kita manusia harus terus berikhtiar untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari kehari. Logikanya begini, toh saya akan mati, lalu dengan kepasrahan, kita menyeberang di jalan tol, atau mungkin berdiri ditengah jalur TransJakarta sambil menunggu taxi. Demikian halnya dengan asap rokok. Think about it!

Tepat pukul 22.00 Wib malam Jumat tanggal 21/2, Mba Dewi meninggalkan kami semua. Baru memasuki lobby kantor, saya dikejutkan dengan isi pesan di bbm dari salah satu teman yang menginformasikan kepergian mba Dewi. Mungkin semua orangpun sudah bisa memprediksikan apa yang bakal terjadi sejak dikabarkan bahwa Dr menyarankan mba Dewi untuk pulang dan dirawat dirumah saja. Tidak ingin takabur dan mendahuli kuasa Allah, saya mencoba menyembunyikan pikiran negatif itu dan terus berdo'a semoga Allah memberikan mukjijatnya kepada mba Dewi dan keluarga. 

Pagi itu dengan sedikit tidak memperdulikan boss saya yang sedang meeting, saya dan teman-teman kantor langsung menuju rumah duka dimana mba Dewi disemayamkan. Dalam ajaran islam, sebaik-baiknya jika ada sodara yang meninggal maka harus dikuburkan secepat mungkin. Saat kami tiba sekitar jam 10am, terlihat kerumunan manusia sudah menyesaki rumah duka. Saya tidak sempat melihat wajah mba Dewi untuk yang terakhir kali, karena kerumunan orang yang berdesakan. Tepat saat saya bisa menyeruak kerumunan orang, kain penutup sudah sampai diatas kepalanya. Saya sempat mengamati anak semata wayang mba Dewi, gadis kecil yang berumur sekitar 5 atau 6 tahun itu seperti belum mengerti bahwa ibunya sudah pergi untuk selamanya. Dengan lugu dan polos tanpa rasa bersedih sedikitpun dia memainkan bunga diatas keranda sang mama. Melihat ini saya langsung teringat dengan putri-putri saya dirumah. 

Putri bungsu saya, Khaira (Kalla)...berusia 4 tahun, memiliki sifat yang agak lebih sensitive dan peka ketimbang kakanya. Saya dan suami sering pura-pura pingsan atau meninggal, Kalla langsung panik dan menangis sejadi-jadinya :"mama jangan matiiii.....mama jangan matiii......". Saya membayangkan bagaiman jika hal ini terjadi dengan saya???....bagaimana saya bisa mengobati rasa sedih anak saya itu? sakit dan perih banget rasanya membayangkan hal itu terjadi. 

Setiap kejadian apapun haruslah dapat kita ambil pelajaran dan hikmahnya, berfikir menjadi manusia yang lebih baik. Mba Dewi memang sudah pergi tapi jangan sampai apa yang menimpa mba Dewi hilang begitu saja, dilupakan tanpa bekas, dan kembali setiap manusia cuek dan tidak peduli terhadap bahaya merokok. Kita harus berani menegur orang yang menzolimi hak kita dalam menghirup udara bersih tanpa asap rokok, tidak terkecuali siapapun dia. Jika aturan hanya bisa dibuat tanpa diterapkan funishmentnnya, maka kitalah sebagai individu yang peduli terhadap kesehatan yang harus bergerak sendiri menegakan aturan itu. Saya gak akan segan-segan mengambil foto para smoker itu didalam ruangan yang jelas-jelas mengatur mengenai rokok dan menguploadnya ke sosmed, dan biarkan norma sosial yang berbicara.

Selamat jalan Mba Dewi, semoga diterima di sisi Allah SWT. Semoga menjadi pelajaran bagi kami semua.