Tampilkan postingan dengan label Transportation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Transportation. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2012

Hak Pejalan Kaki


Saya awalnya gak begitu tertarik membuka video ini tapi pas mengamati komentar yang sudah menontonnnya saya jadi penasaran : http://video.vivanews.com/read/17476-pembela-hak-pejalan-kaki_1

Memang ya hidup di Jakarta itu gak gampang, ada-ada aja yang bisa memicu stress dan bentrokan tapi salut deh buat Ibu yang satu ini, seorang diri ngelawan para pengendara sepeda motor yang naik ke trotoar. Itu hak nya si Ibu loch, pengendara motor yang menurut saya so stupid banget, udah salah ngotot pula, gak segitunya kaliiii maaaaassss……….

Kalau mau ngambil hak orang lain dengan dalih apapun bok ya liat-liat situasi dan kondisi toch…..saya jadi malu sama Ibu ini karena saya juga pernah mengendarai motor sampai naik ke trotoar tapi ya tetap menghormati yang jalan kaki juga, wong itu haknya yang saya rampas kok…


Kembali lagi, hidup di Jakarta, sebagai orang timur kita secara mendasar punya begitu luas rasa toleransi, tidak sungkan untuk berbagi walaupun terkadang merugikan diri kita sendiri, bahkan terkadang orang yang kita berikan toleransi kurang ajar, udah ngambil hak orang mau semuanya lagi. Menurut saya ini justru yang gak bener. 

Urusan sarana transportasi dan tetek bengeknya di Jakarta terutama sudah seperti benang kusut yang susah banget untuk di luruskan. Banyak pihak yang saling kait mengait, tinggal bagaimana kita menyikapi kondisi yang ada dengan lebih bijak.


Rabu, 01 Februari 2012

Transjakarta BUKAN Busway, Part 2


Pada postingan sebelumnya saya pernah membahas mengenai kesalahan dalam memaknai kata 'Tranjakarta' menjadi 'Busway'. Memang kedua kata ini tinggal di ranah yang sama namun memiliki arti yang berbeda, yang satu 'jenis kendaraan' yang satunya lagi 'jalur untuk kendaraan'. Saking gemesnya sama orang-orang yang masih belum sadar dan terlalu merasa nyaman dengan kekeliruan ini, saya sampai mengumpulkan bukti-bukti rambu-rambu Transjakarta, yuk coba kita bahas satu persatu.
Liat deh pada rambu diatas, kata 'selain bus way' kemudian dibawahnya diperkuat dengan padanan kata yang seharusnya jenis yang sama 'kendaraan umum, mobil, motor'...ini artinya yang membuat mengartikan kata 'bus way' disini sama dengan jenis kendaraan. Yang setuju dengan saya angkat tangan.....!!! seharusnya kata yang tepat adalah 'Selain Bus Transjakarta'
Lanjut pada kalimat dibawahnya, 'dilarang menggunakan lajur bus way'. Kata 'way' dalam bahasa Indonesia berarti 'jalan' atau 'jalur' atau 'lajur', jadi disini terjadi pemborosan kata. betul tidaaaaaak???.....

Untuk rambu yang satu ini 'separtor busway' saya setuju tidak ada kekeliruan, karena jika kita break satu persatu ke dalam bahasa Indonesia kira-kira begini, 'separator' berasal dari bahasa inggris 'separate' yang berarti 'pisah' karena ditambah 'or' jadinya 'pemisah'. Bagaimana dengan 'Buswa'? berasal dari dua suka kata 'bus' dan 'way' yang artinya 'jalur/jalan bus'. Jadi kalau digabungkan kira-kira berarti 'pemisah jalur bus' atau dengan kata lain pengkolan bus, pemotongan jalur bus, perempatan jalur bus and so on. 
Lalu bagaimana dengan rambu satunya lagi, 'kecuali busway'. Hadoooooooo.....udah keliru, bahasa dicampur aduk lagi, jadi makin gak jelas artinya. Jelas ini kesalahan besar dan anehnya dipasang paling banyak. seharusnya dibaca 'dilarang masuk (tanda merah pagar putih) kecuali bus Transjakarta'......meskipun SIM nembak, gini-gini saya paham loch sama arti rambu-rambu lalulintas. 




Ini ada lagi , saya yakin yang dimaksud adalah 'Halte Bus Transjakarta Jelambar'.
Hal sepele buat sebagian orang bahkan Pemda tapi sangat beban moral buat saya pribadi, bagaimana tidak, adakah Anda berfikir bahwa penggunaan kata/kalimat yang salah mencerminkan tingkat kecerdasan suatu bangsa? apa kira-kira orang bule bilang kalau liat rambu-rambu ini? mungkin mereka akan berfikir 'maksud dan tujuan hidup lu apa siiiiich....'. 'Jalur khusus busway', logikanya kalau yang baca ini supir Bus Mayasari Bakti, sah doooooooong...tul gak?
yang tepat : Khusus Bus Transjakarta

Balada Tukang Tambal Ban dan Penebar Ranjau Paku

Dinamika kehidupan di Jakarta tuch ada-ada aja ya, saya banyak sekali mengalami hal tidak terduga. Salah satunya seperti saya alami tadi malam, untuk kedua kalinya dapat kesempatan lebih dekat berkenalan dengan tukang tambal ban motor di depan Shangrila Apartment, sebelahnya Shangrila Hotel. Entah sebuah kebetulan atau karena kesengajaan, paku berkarat bisa bersarang di ban sepeda motor saya. Herannya ini adalah kali kedua kami (saya dan suami) mengalami bocor ban motor di tempat yang persis sama dan masih dengan tukang tambal ban yang sama pula. 
Depan apartment Shangrila, tambal ban part 1

Pengen sich untuk berfikir husnuzon tapi kalau kondisinya perut laper, lelah, pengen cepat pulang, anak-anak nunggu, gerah, kok rasanya pikiran baik susah datang ya, adanya tuch pikiran negatif terus. Coba deh di pikir, seberapa besar persentase ada paku berkarat tercecer di depan sebuah hotel berbintang, yang jalanannya dilalui banyak orang setiap hari, padat dan macet. Tidak ada pembangunan apa-apa juga di dekat situ, bengkel furniture gak ada, toko bangunan gak ada, pemulung dengan gerobaknya susah lewat, gimana mau lewat, jalan kaki aja susah, yang ada pengendara motor udah geram duluan kalau ada gerombak yang menghalangi jalan mereka.

Buat saya motifnya gak lain dan gak bukan adalah KESENGAJAAN!. Gak bisa dipungkiri pemikiran ini juga hadir atas pemberitaan yang diangkat media tentang kejahatan ranjau paku yang marak di Jakarta belakangan ini. Kalau untuk daerah BNI 46 (pinggiran kali) kecil kemungkinan kesengajaan untuk perampokan karena daerah ini selalu ramai dengan pengendara, cenderung macet, pun kalau rampok mau beraksi paling pada midnight keatas, itupun sekalian kencan sama hantu kuburan karet Bivak, secara ya tempatnya tuch strategis banget buat bikin cerita horor. 

Jadi motif kesengajaan lainnya tinggal satu yaitu menjadi korban ‘pelanggan’ tambal ban. Memang kita tidak boleh mengeneralisir semua tukang tambal ban berbuat jahat untuk mendapatkan pemasukan yang lebih besar. Tapi seperti yang saya katakan tadi, tidak mudah untuk berfikir positif dalam kondisi ‘tertekan’....wakakak semua serba negatif aja jadinya.  Tapi bukan berarti berusaha untuk berfikir positif tidak bisa kita lakukan.....setidaknya untuk kebaikan diri kita sendiri.

Melihat kondisi suami yang sewot, gara-gara ini kali kedua kejadian serupa dia alami bersama saya. Dulu bahkan lebih parah, sedang buru-buru mau nonton pertandingan sepak bola di GBK, bener-bener pengalaman yang ‘gak banget’ – gak pengen diingat, gak pengen disebut, gak pengen lagi, pokeke gak baget deeehhhh.....Untuk mengimbangi situasi yang gak menguntungkan, saya memilih mengajak suami berfikir positif dengan membahas berbagai hal sampai temen lewat – katanya sich ampe dadah-dadah...., gak ngeliat #maaf ya jeng Mira.....

Suasana sudah mulai gelap, senja menjelang malam, satu-satunya yang bisa dilakukan saat si tukang tambal ban bekerja adalah mengobrol, ngobrolin apapun yang bisa diobrolin. Mulai dari cara ‘dr ban’ beraksi mengoperasikan peralatannya, rada aneh dan gak masuk hitungan wajar. Coba bayangkan, dimana-mana kalau pengen tau berapa banyak lubang di ban, biasanya digunakan cara merendam ban dalam air atau ban dikencangkan lalu ditandai lubang anginnya, kalau bapak yang satu ini kondisi ban kencang lalu dikempeskan lalu dia tandai lubangnnya. Hmmmm....kok aneh ya...emang bisa? Ada cara gampang ngapain dia pilih repot. Sekali dapat lubang 5,....hadooooo....gak salah tuch pak, jangan-jangan salah lagi nandainnya pake paku lainnya .....Coba Anda diposisi saya ya, apa yang Anda pikirkan? Lampu yang dia andalkan untuk bekerja cuma lampu jalanan, remang-remang udah kek di diskotek, usianya juga sudah gak muda lagi, gimana caranya bisa yakin banget gitu ya sama lubangnya ....hafal banget gitu posisinya hahaha.....Udah gitu dia gak punya ban baru, mendingan nambelin satu persatu ke 5 luban tsb. Aduuuuh pak…..nyamuk nich….
Ini dia biang kerokny, pengen di beliin Frame deh biar indah....

Ya sudahlah......perjalanan kami tergantung sama nich bapak, mau ngomong apalagi coba, ini namanya hukum rimba berlaku, siapapun yang lebih berkuasa dia yang akan menang, meskipun yang mengikuti tidak sepenuhnya ikhlas tapi toch tetap tidak akan berbuat apa-apa. Yang paling kami ingat dari bapak tambal ban ini, dia banyak ngomong!!. Maklum si bapak kan gak kenal istilah ‘talk less do more’…. Saking kebanyakan ngomong didalam hati kami khawatir ban yang dia tambal tidak bagus kualitas tambalannya, jangan-jangan gak nyampe rumah udah bocor lagi nich.....#ssst jangan diomongin nanti kejadian beneran loch.....hahaha.
Selama nunggu si bapak menyelesaikan pekerjaannya, kami melihat ada ibu-ibu yang bermurah hati ngasih nasi bungkus untuk si bapak sambil terus berlalu, mungkin karena faktor iba melihat bapak yang sudah tua tapi masih tetap rajin bekerja mencari nafkah. Saking asiknya ngobrol sampai kami berdua tidak sadar, tidak lama berselang seorang bapak dari mobil berteriak pada si bapak dan memberikan sejumlah uang. Kami berdua sampai heran, kok si bapak ngeh aja ya......si bapak tentu saja senang dan kembali berkoar-koar panjang lebar pada suami. Katanya dia sebenarnya sudah tidak diperbolehkan bekerja oleh kedua anaknya yang sudah sukses menjadi supervisor dan punya banyak anak buah, katanya dia kalau gak kerja badannya terasa sakit.....hmmmmm.....hmmmmm think think think.....do you believe that ? – mencoba untuk berdalih, mohon maaf dengan sangat saya tidak bisa percaya begitu saja. 

Logikanya saya begini, andai kata si bapak ini memang mempunyai sifat idealis, senang bekerja dan tidak ingin mengandalkan orang lain lalu kenapa dia dengan tidak malu-malu dan sungkan menerima para dermawan itu menyisihkan sebagian rejekinya? Biasanya sifat akan mengikuti seseorang pada aksi berikutnya yang menunjukan sifatnya atau dengan kata lain, sifat akan tercermin dari perbuatan seseorang. Kalau si bapak memang idealis, bukankah seharusnya dia sedikit merasa risi menerima belas kasihan orang lain. Apa yang dia utarakan tentang latar belakang keluarganya dengan apa yang dia jalani dan terjadi di depan mata saya, saya anggap kontradiktif, jadi saya tidak bisa menerima sepenuhnya apa yang dia ungkapkan adalah kebenaran bukan karangan. Saya malah berfikir apa yang dia ungkapkan adalah dalih atas perbuatan jahatnya menyebarkan ranjau paku. Jahat ya saya ......? tapi yah itu hanya sebatas pemikiran, menurut saya sah-sah saja berfikir seperti itu, berfikir adalah sebuah kreatifitas tanpa batas, hak seorang individu dan tidak ada yang bisa menghalanginya.

Sifat individual, sendiri-sendiri, skeptik, paranoid, dan berada pada golongan heavy viewer tidak dapat saya hindarkan selama hidup puluhan tahun di Jakarta. Beragam rangkaian berita kejahatan membuat kita menjadi lebih waspada dalam setiap tindakan yang kita ambil dalam kejadian disekitar kita.  Menjadi individu yang selalu berfikir negatif, defensive terhadap lingkungan yang asing bagi kita dan cenderung menjaga jarak. Anda mungkin tidak sadari tapi kalau sekali-kali ditelaah pasti akan ketemu jawabannya kenapa sampai bisa begitu.
Pernah gak mendadak di tengah jalan ada seorang bapak-bapak, segar bugar, dengan gendolan tas di punggungnnya tiba-tiba dengan akrabnya bertanya ‘dek, saya mau ke slipi, naik apa ya?’ setelah di kasih tau malah melanjutkan perbincangan ‘bapak sudah jalan jauh sepertinya nyasar habis ongkos…bla…bla…bla ‘ kenapa bla …bla…karena kita sendiri udah gak pengen nyimak uraian lengkapnya si bapak, gara-gara dipikiran kita udah kebayang, PENIPUAN nich…..Atau ada ibu-ibu ngelongsor di trotoar dengan jalanan yang dipadati pengendara seperti di depan kantor lurah Bendhil? Apa yang anda pikirkan ? berhenti sejenak, turun dari mobil atau motor, lalu menolong si ibu yang kebingungan? Atau cuek? …..hahahah…..gak usah dibahas…..

Well, setelah panjang lebar ngobrol dengan suami, menikmati lampu jalanan, debu bertebangan dan hampir 1 jam, 5 lubang sudah ditambal, perut mules, muka lengket, waktunya kita pulang namun tetap dengan perasaan gak yakin bakalan sampai rumah. Aaaaaandddd.....bam! tidak sampai 5 kilometer saat menyebrang rel kereta motor tiba-tiba oleng lagi....mati!!! bocor lagi.......hadooooooo bener kan apa yang ditakutkan terjadi. Baru juga separuh jalan......Gak kebayang deh keselnya suami, sampe dia bilang “makan deh tuch duit, gak ikhlas gw.....” – sambil nekuk mukanya ke motor .....hahahaha.....biasanya yang emosi gak stabil kalau dalam kondisi begini adalah saya tapi aneh, kali ini justru saya yang merasa baik-baik saja, salah satunya karena saya happy jadi punya bahan tulisan untuk mengisi blog ini wakakaka........
Dengan perut lapar dan muka sewotnya....

Untungnnya –udah jatuh tertiban tangga masih dibilang untung soale gak pake luka ......hahaha, gak jauh kita ketemu tukang tambal ban yang menyediakan ban baru, gak seperti bapak yang tadi, mau-maunya bela-belain nambal 5 lubang ketimbang modalin jual ban baru padahal kan anaknya supervisor gitu loch.....gak berapa menit urusan ganti ban baru selesai dan kita tancap gas pulang. 
Ganti ban, Part 2

Sungguh pengalaman biasa yang menjadi luar biasa buat saya, karena secara tidak langsung telah menjadi bagian dari berita yang sedang trend saat ini, ranjau paku dan relawan sapu bersih yang bertugas membersihkan ranjau paku dengan suka rela. Sayang nich gak ada wartawan TV yang melintas, kalau gak kan lumayan masuk tipi......bisa dadah-dadah dan kirim-kirim salam hahahha......

Tapi lebih jauh, sebenarnya kejadian ini membuat saya belajar bagaimana cara menyikapi setiap kejadian tidak mengenakan dengan terus menyuntikan hal positif kedalam pikiran kita hingga kita tidak terbawa ke hal yang lebih buruk lagi, penyakit hati, jauh rejeki, stress, sakit dst. Mendingan dibawa santai dan dinikmati aja, itu akan jauh lebih membantu. Percaya deh....good luck.

Jumat, 27 Januari 2012

Transjakarta Bukan Busway


Bagi saya Jakarta identik dengan banyak hal sebut saja diantaranya Monumen Nasional atau lebih akrab disapa Monas, macet, polusi, Ibu Kota Negara Indonesia, padat penduduk, Transjakarta. Berbicara mengenai Transjakarta, pernahkah Anda mendengar ada orang yang mengatakan “sebentar ya saya lagi di Busway..” atau “saya naik Busway dari Harmoni...”. Kebiasaan penyebutan bus Transjakarta dengan kata Busway menjadi suatu yang 'halal” karena terbiasa. Sejak proyek ini berjalan banyak pihak yang menyebut bus Transjakarta dengan Busway. Salah satu contohnya, sering sekali saya menemukan konteks kalimat yang seharusnya menyebutkan Transjakarta menjadi Busway diberbagai media massa, tentu saja hal ini berpengaruh sangat besar dalam cara masyarakat berbicara tentang bus Transjakarta.

Sebenarnya boleh dikatakan hal ini masalah sepele namun menjadi cukup besar dan memalukan – setidaknya menurut saya, bagi masyarakat kita, bagi bangsa kita. Bagaimana tidak, kata Busway pada dasarnya berasal dari bahasa Inggris yang terdiri atas dua suku kata yaitu Bus yang berarti ‘Bis dan ‘Way’ yang berarti ‘Jalan/jalur, jadi jika kita artikan ke dalam bahasa Indonesia kata ‘Busway’ menjadi ‘Jalan Bis’ atau ‘Jalur Bis’. Bisnya sendiri punya nama Transjakarta. Jadi tidak salah jika ada kelakar yang mengatakan, ya terang aja ketabrak wong sampean naik busway (berdiri dijalur bis).

Selain itu, dulu pemerintah pernah mendengungkan tentang penggunaan bahasa Indonesia bagi perusahaan-perusahaan dalam negri, ambil contoh Citraland berganti nama menjadi Mal Ciputra namun sepertinya lambat laun hal itu menjadi pudar seiring berjalannya waktu. Nah, bagaimana dengan penggunaan kata Busway? kenapa tidak dipakai bahasa Indonesia saja ‘Jalur Bis’. Selain artinya kita menghargai budaya bangsa sendiri, bukankah untuk masyarakat awam yang katakanlah kurang menguasai bahasa bule akan menjadi lebih gampang?. terlepas (mungkin) dari tujuan pemerintah menggunakan kata asing karena Jakarta sebagai ibu kota negara dimana banyak warga asing ada di Jakarta. 


Masih mengenai Transjakarta, pernahkah Anda perhatikan rambu-rambu yang digunakan untuk fasilitas transportasi yang satu ini? Sebagai bukti kesalahan yang memperburuk pengucapan Transjakarta menjadi Busway. Antara lain “Khusus Busway” artinya menjadi “Khusus Jalur Bis” jadi andaikata ada jenis bis lain yang memasuki jalur ini selain Transjakarta berarti sah dooong....?, seharusnya kata yang tepat adalah  ‘khusus Bis Transjakarta’.  
Contoh lain “Jalur Busway”, terdengar aneh bukan? artinya kan menjadi “Jalur Jalur Bis”, sungguh penggunaan kata yang boros dan siapapun yang menyadari kekeliruan ini pasti tidak mengerti maksudnya. Kata yang tepat adalah “Jalur Bis Transjakarta”. Nah, mulai sekarang waktunya Anda yang memperhatikan rambu-rambu ‘unik’ Transjakarta dan silakan Anda terjemahkan sendiri artinya. (d