Jumat, 22 Februari 2013

Etika BB Messenger

Pernah denger kalimat :"Be smarter than your smartphone"? pernah dong....kalimat ini simple, mudah diingat dan menohok kita para pengguna smartphone. Jangan sampe kita kalah pintar dengan gadget kita sendiri. Kalimat itu selalu mengingatkan saya....jangaaaaaaaaaan sampe saya dikendalikan oleh gadget saya. 

Saya ingin bercerita tentang hal yang paling menggangu saya dalam penggunaan fasilitas blackberry messenger. Sering ada pengguna yang menurut saya kurang memahami esensi lalu menjadi pengguna yang kurang smart. Contohnya, broadcast yang gak penting, nyampah, isinya gak dipikirkan terlebih dahulu, dicerna baru di BC. Ingat, apa yang kita ucapkan, kita kenakan, kita suarakan, kita kerjakan, siapa temen kita, menggambarkan siapa kita. Jadi jangan sampai kita mempermalukan diri sendiri hanya karena membroadcast pesen yang sama sekali gak penting. 

Berikut saya rangkum beberapa etika yang bisa dipertimbangkan para pengguna bb messenger
  1. Salam : siapapun anda, dengan siapapun anda ingin berbicara, jangan lupa "ketuk pintu", beri salam dulu sebelum memulai pembicaraan, atau setidaknya menyapalah sebagai prolog percakapan anda. "Hi, Hallo, Siang, Bu, Mba, Pak, .....dst"
  2. Busy : jika status orang yang ingin anda ajak bicara "sibuk", sebaiknya tunggu hingga status itu berubah atau setidaknya, bertanyalah, apakah boleh mengganggu sebentar. Tapi terkadang ada juga pengguna yang menurut saya "aneh", bagaiman tidak, statusnya selalu manteng "BUSY"...nah justru yang begini yang harus mengevaluasi kembali penggunaan statusnya tersebut. 
  3. PING : sungguh bukan suatu hal yang sopan untuk memulai pembicaraan dengan PING. Yang perlu diingat ping tidak sama dengan greeting. Ping maksudnya sama seperti ketika kita chat di ym ada istilah BUZZ . bisa dikatakan untuk cepat dibalas pesannya, seperti panggilan WOY!!
  4. Broadcast : nampaknya fasilitas ini yang paling sering disalahgunakan. Seperti pada prinsip dalam ke PR an, tidak semua pesan bisa kita sampaikan melalui semua media, kepada semua khalayak. Kita harus teliti secara bijak menyeleksi, pesan apa disampaikan kepada siapa, melalui apa. Contohnya pada kategori berikut :
·         Joke : bercanda jika dilemparkan sesekali akan menyenangkan, tapi kalau dalam waktu 5 atau sampai 10 kali dalam sehari atau bahkan dalam 1 jam, sungguh tindakan yang tidak bisa dimaafkan!...hahaha
·         Informasi : niatnya sich baik menyebarkan informasi, tapi please...di cek dulu kebenaran dari informasi tersebut, terkadang informasi tersebut sudah expired, malah jadi mengganggu bahkan berbahaya.
·         Religius : pernah kan dapat pesan yang berisi seperti ini : “kirimkan pesan ini kepada 20 orang dalam waktu 1 jam maka anda akan mendapatkan rejeki atau jika tidak maka anda akan mendapat sial”....tlng dipikirkan kembali dengan sematang-matangnnya, cobalah berlogika, bernalar, apa iya sebuah tindakan membanjiri orang dengan pesan akan membuat anda mendapat rejeki dan terhindar dari musibah ?
·         Deletation dari RIM : ada hoax yang sengaja disebarkan, isinya supaya pengguna bbm memforward pesannya kepada seluruh contactnya, kalau tidak maka RIM akan mendelete  mereka secara otomatis. Aduuuuuuh....stupid banget seehhh.....ada juga kalau kebanyakan yang kirim tu bb hang... atau yang smiley yang dikirimlah, trs katanya nanti semua contact anda akan kedip2 dan warna warni..ya eyalaaaah....wong di BC.

5. Display Nama  : sebaiknya gunakan nama anda, jangan menggunakan simbol-simbol aneh atau huruf alay yang menyusahkan orang untuk mencari nama anda, yang paling menyebalkan adalah, mencari nama orang tersebut disaat-saat penting. Sebenarnya, kalau ketemu yang model begini, kita tinggal ganti saja nama orang tersebut  dengan penggunaan font standard, jadi kita tidak perlu khawatir tidak akan ketemu nama orang tersebut.

Diatas beberapa hal yang perlu diperhatikan para pengguna bbm, mungkin banyak lagi yang bisa ditambahkan, dipersilaken.......mari menciptakan budaya bbm yang lebih sehat.

Selamat Jalan Mba Dewi Husmawati | Tentang Kanker Paru-Paru dan Pemicunya

"Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS"

-- Tuhan 9 Cm | Taufik Ismail --


Diatas adalah sepenggal sajak karya Taufik Ismail mengenai gaya hidup masyarakat Indonesia yang begitu lekat dengan rokok. Sungguh kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa perokok pasif hanya menerima sampahnya saja dari para perokok yang tidak bertanggung jawab. Apapun dalih yang dibuat oleh para perokok buat saya akan selalu ada jawaban logis yang bisa mematahkannya. 

Hari ini, saya baru saja kehilangan satu teman untuk selama-lamanya karena mengidap kanker paru-paru, Dewi Husmawati. Tidak sampai 1 tahun perjuangannya melawan kanker, dia menyerah dengan meninggalkan 1 anak perempuan yang masih berusia sekitar 6 tahun. Usianya baru 39 tahun, dia harus merelakan berpisah dengan keluaganya selama berbulan-bulan, menjalani perawatan di rumah sakit Persahabatan Rawamangun. Saat saya menjenguknya sekitar 2 minggu yang lalu di rumah sakit, kondisi mba Dewi sudah sangat menurun akibat menjalani 7 kali kemoterapi, seharusnya masih ada 4 kali jadual kemo yang harus ia jalani, namun Allah keburu memanggilnya. Mungkin inilah yang terbaik untuk mba Dewi dan keluarga, terlalu perih melihat penderitaannya. Bukan saja materil tapi juga moril yang harus dikorbankan. 
Mba Dewi bersama anak semata wayang dan suami
Menurut penuturan mba Dewi, penyakit kankernya diketahui bermula dari rasa sakit didada yang ia rasakan dan seperti sesak nafas sekitar 2 minggu, sempat dia berfikir ini adalah gejala masuk angin biasa, namun setelah tidak kunjung sembuh dia memeriksakan diri ke rumah sakit guna mendapatkan informasi yang lebih akurat lagi. Setelah di scan ternyata terlihat dengan jelas bulatan kanker mengganjal disela paru-parunya. Sebelumnya dia tidak merasakan gejala apapun. Mba Dewi memang memiliki bibit kanker dari orang tuanya, seperti hal saudarinya yang lain meninggal akibat kanker, namun tentu ada faktor yang memicu pertumbuhan bibit ini. Berbagai kemungkinan penyebab pemicunya sudah ditelaah dan Dr sampai pada kesimpulan bahwa aktifitas sebagai perokok pasiflah yang menjadi penyebabnya. 
Mba Dewi sekitar 2 minggu lalu

Meskipun dengan pengorbanan yang begitu besar, masih tidak ingin menyalahkan siapapun, dia berpesan, agar jangan sampai ada lagi korban sepertinya terutama untuk teman-teman satu kantor. Sambil mengingat-ngingat, mba Dewi bercerita, kehidupan saya lebih banyak didalam kantor ketimbang diluar, setiap hari saya didalam kantor, dirumah orang tua saya tidak merokok, saya gak doyan minum minuman bersoda. Ini adalah efek kebiasaan buruk yang berawal dari 10 hingga 14 tahun yang lalu, ruangan kantor penuh dengan asap rokok, si anu  ngerokok didepan muka saya (orang-orang yang tergolong kalangan elite di kantor), lalu gimana saya bisa menghentikan mereka? (sungkan karena yang merokok adalah tamu kehormatan, jajaran direksi dll yang sejenisnya), asap ngebul kemana-mana, ruangan ber AC, tertutup, mereka pada lari keruangan kerja saya karena diruangan lain tidak bisa merokok, tempat saya dijadikan basecamp para perokok.

Saya bingung harus ngomong apa dan menjawab apa ke mba Dewi, terbesit kengerian yang sangat didalam jiwa saya, bagaimana jika cobaan seberat ini menimpa pada saya, bagaiman anak-anak saya, suami, siapa yang akan mengurus mereka, saya masih sangat ingin bersama mereka untuk waktu yang lama, saya masih sangat mencintai  mereka dan belum mau berpisah, bagaimana dengan biaya rumah sakit, dari mana uang untuk membiayainya, mana enak kalau kita harus menyusahkan suami, orang tua, teman-teman yang menjenguk dan menunggui kita kita dirumah sakit, lalu saya tidak bekerja dan melakukan aktifitas, merasakan pegal disekujur tubuh karena terus berbaring dan sakit luar biasa saat di kemo, bukan hanya sekali tapi berkali-kali, rambut yang tadinya panjang lalu rontok tanpa tersisa sehelai pun, dan yang paling mengerikan adalah bahaya itu masih mengacam disekitar saya. Masih banyak orang-orang berdasi dan sangat intelek ini yang mengepulkan sampah-sampah nikotin diruangan kantor. Saya sungguh tidak mengerti apa yang ada dibenak mereka-mereka para smoker ini, sudah ada larangan, sudah ada korban, tapi maaaaaaaaaaaaasih juga membandel. Kemana sich perginya hati nurani mereka.

Mati memang urusan yang diatas, begitu juga rejeki, jodoh serta takdir. Tapi kita manusia harus terus berikhtiar untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari kehari. Logikanya begini, toh saya akan mati, lalu dengan kepasrahan, kita menyeberang di jalan tol, atau mungkin berdiri ditengah jalur TransJakarta sambil menunggu taxi. Demikian halnya dengan asap rokok. Think about it!

Tepat pukul 22.00 Wib malam Jumat tanggal 21/2, Mba Dewi meninggalkan kami semua. Baru memasuki lobby kantor, saya dikejutkan dengan isi pesan di bbm dari salah satu teman yang menginformasikan kepergian mba Dewi. Mungkin semua orangpun sudah bisa memprediksikan apa yang bakal terjadi sejak dikabarkan bahwa Dr menyarankan mba Dewi untuk pulang dan dirawat dirumah saja. Tidak ingin takabur dan mendahuli kuasa Allah, saya mencoba menyembunyikan pikiran negatif itu dan terus berdo'a semoga Allah memberikan mukjijatnya kepada mba Dewi dan keluarga. 

Pagi itu dengan sedikit tidak memperdulikan boss saya yang sedang meeting, saya dan teman-teman kantor langsung menuju rumah duka dimana mba Dewi disemayamkan. Dalam ajaran islam, sebaik-baiknya jika ada sodara yang meninggal maka harus dikuburkan secepat mungkin. Saat kami tiba sekitar jam 10am, terlihat kerumunan manusia sudah menyesaki rumah duka. Saya tidak sempat melihat wajah mba Dewi untuk yang terakhir kali, karena kerumunan orang yang berdesakan. Tepat saat saya bisa menyeruak kerumunan orang, kain penutup sudah sampai diatas kepalanya. Saya sempat mengamati anak semata wayang mba Dewi, gadis kecil yang berumur sekitar 5 atau 6 tahun itu seperti belum mengerti bahwa ibunya sudah pergi untuk selamanya. Dengan lugu dan polos tanpa rasa bersedih sedikitpun dia memainkan bunga diatas keranda sang mama. Melihat ini saya langsung teringat dengan putri-putri saya dirumah. 

Putri bungsu saya, Khaira (Kalla)...berusia 4 tahun, memiliki sifat yang agak lebih sensitive dan peka ketimbang kakanya. Saya dan suami sering pura-pura pingsan atau meninggal, Kalla langsung panik dan menangis sejadi-jadinya :"mama jangan matiiii.....mama jangan matiii......". Saya membayangkan bagaiman jika hal ini terjadi dengan saya???....bagaimana saya bisa mengobati rasa sedih anak saya itu? sakit dan perih banget rasanya membayangkan hal itu terjadi. 

Setiap kejadian apapun haruslah dapat kita ambil pelajaran dan hikmahnya, berfikir menjadi manusia yang lebih baik. Mba Dewi memang sudah pergi tapi jangan sampai apa yang menimpa mba Dewi hilang begitu saja, dilupakan tanpa bekas, dan kembali setiap manusia cuek dan tidak peduli terhadap bahaya merokok. Kita harus berani menegur orang yang menzolimi hak kita dalam menghirup udara bersih tanpa asap rokok, tidak terkecuali siapapun dia. Jika aturan hanya bisa dibuat tanpa diterapkan funishmentnnya, maka kitalah sebagai individu yang peduli terhadap kesehatan yang harus bergerak sendiri menegakan aturan itu. Saya gak akan segan-segan mengambil foto para smoker itu didalam ruangan yang jelas-jelas mengatur mengenai rokok dan menguploadnya ke sosmed, dan biarkan norma sosial yang berbicara.

Selamat jalan Mba Dewi, semoga diterima di sisi Allah SWT. Semoga menjadi pelajaran bagi kami semua.


Kamis, 21 Februari 2013

Screening The Act of Killing (TAoK) @ FIB UI Depok

"Tidak mudah bagi kita, sebetulnya, membedakan antara yang fiksi dan yang nyata. Kita seringkali tidak tahu yang nyata itu yang mana. Dalam kesulitan ini, setiap hari, kita harus mengambil keputusan dan bertindak atas keputusan itu."
--Joshua Oppenheimer--

Akhirnya kesampaian juga nonton TAoK, film diatas film yang bikin penasaran seperti apa. Bermula dari pembahasan dalam kuliah Managemen Reputasi perihal bagaimana sebuah Grand Goal ditetapkan dan bagaimana upaya yang dilakukan agar pesan itu sampai kepada khayak, kemudian mereka aware terhadap isi pesan, lalu memberikan attentions (perhatian), selanjutnya muncul desire (keinginan/minat) terhadap informasi yang kita sampaikan hingga akhirnya mengambil action (tindakan) untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan atau sebuah program yang kita kelola dalam rangka mencapai goal yang sudah ditetapkan diatas tadi- biasa disingkat dengan A-I-D-A.

Inilah praktek atau contoh nyata yang telah dilakukan oleh para penyebar pesan dan pembawa informasi perihal film Jagal /TAoK. Namun apa yang menjadi Grand Goal dari film ini sendiri hanya mereka yang tahu. Saya yakin bahwa dalam mencapai goal mereka, TAoK hanya merupakah salah satu dari banyak tools yang dipergunakan.Yang jelas saya sudah menjadi "korban" arus informasi yang disampaikan tsb, saya sudah mencapai pada tingkatan "A" terakhir yaitu Action, dimana saya menonton film tsb dan tentu saja lebih dari pada itu, dengan suka rela menshare informasi seputar TAoK, oh ya dan membuat postingan ini tentunya.....#kedip2 sama diri sendiri....wakakaka

Saya selalu teringat pada pelajaran filsafat, dimana filsafat dikatakan sebagai ibu dari ilmu pengetahuan. Dengan berfilsafat artinya kita terus menerus bertanya, berfikir. Salah satunya terhadap TAoK. Film ini erat kaitannya dengan kejadian pembantaian terhadap anggota atau disinyalir anggota PKI antara tahun 1965-1966. Ada beberapa versi mengenai jumlah orang yang tewas pada masa itu, yang jelas antara 500 ribu hingga 1 juta jiwa. TAoK merupakan film documenter behind the scene-nya film berjudul "Arsan & Aminah".
Aldy, Anwar

Dikatakan film TAoK sudah meraih penghargaan diberbagai kancah perfilm internasional, terakhir yang saya ketahui adalah pada festival film Internasional di Berlin (Berlinale) Jerman 2013, menang pada kategori Panorama Audience Award (adalah hasil penilaian dari penonton yang diminta untuk memberikan nilai pada masing-masing film yang mereka tonton) dan Prizes of the Ecumenical Jury (penilaian tinggi dari  organisasi film gereja protestan dan katolik untuk film yang dianggap peka terhadap nilai-nilai sosial dan hak hidup manusia) untuk film dokumenter.

Sudah lama kontroversi mengenai kudeta yang katanya dilakukan oleh PKI kemudian digagalkan oleh Jend. Soeharto pada masa itu, merupakan propaganda politik semata. PKI hanya menjadi kambing hitam, pembantaian yang digambarkan sadis pada film G30S PKI dianggap sebagai pemicu pertahanan masyarakat dan kemudian anti terhadap PKI dan bersiap melakukan perlawanan, terjadi pelanggaran HAM berat, banyak bukti sejarah yang hingga kini tidak diungkapkan bahkan adapula yang dihilangkan terkait tragedi PKI dst dst... Dikatakan bahwa film TAoK sangat unik, mengungkap sisi lain dari sebuah sejarah gelap dan panjang sebuah bangsa, serta dianggap sebuah pintu yang diharapkan mampu mengungkap sedikit demi sedikit kebenaran dalam sejarah yang ingin kita ketahui dan bukan untuk dilupakan dan ditutupi. Mungkin karena itu juga pemutaran film ini banyak dijegal di berbagai tempat di tanah air, seperti Blitar dan Malang - termasuk yang kemaren di UI tempat saya nonton sempet didatengin kapolseknya.

Beranjak dari situ, rasa penasaran saya semakin tinggi terhadap kekuatan film ini. Tidak sulit mendapatkan informasi update mengenai segala hal tentang film ini termasuk jadual screeningnnya, asal mau pantengin fb nya aja, beres. Dan kesempatan itu akhirnya datang juga, Selasa (19/2) dijadualkan tayang di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) Depok jam 13.15 Wib. Haiyaaaaaaaaaaah.....hari kerja, siang pulak!....tapi kalau gak nonton sayang nich, gak tahu kapan ada lagi. Lagian si Boss juga lagi gak ada agenda yang penting-penting banget neh...walhasil keputusan bulat, tak ambil cuti sajah...dari pada nyesel #curcol


Joshua Oppenheimer
Perlu diketahui sebelumnya bahwa film ini dibuat oleh Joshua Oppenheimer sebagai bagian dari penelitian pascadoktoral, dan sebagaimana lazimnya sebuah karya ilmiah harus menjadi konsumsi publik, sesuatu yang harus mampu memberikan manfaat dan berpengaruh terhadap orang banyak. Film ini kabarnya dibuat dalam kurun waktu yang tidak pendek, yaitu 7 tahun antara tahun 2005 sampai 2011, setting film sebagian besar gambarnya diambil di sekitar Medan, Sumatera Utara. Sebagian pendanaan untuk film ini berasal dari Dewan Riset Kesenian dan Humaniora Inggris.

Selasa, 19 February 2013 - UI here we are


Saking niatnya, cuti sudah diajukan sejak seminggu sebelum jadual pemutarannya dan baru bisa di sign si boss sore hari sebelum hari H. Saya gak sendiri, entah karena memang kena hasutan saya beberapa bulan ini, ato memang karena tahu diri "kewajiban" nganter istri, atauuuu....memang pada dasarnya suami tercinta orang yang baik hati dan tidak sombong, tanpa babibu beliau bersedia nganter plus ada 2 orang temen yang sama tertariknya dengan saya. Fisa dan Amel....semoga lain kali kita bisa dateng ke acara diskusi unik lainnya ya...

Dengan pertimbangan kurang familiar dengan lokasi pemutaran, antisipasi membludaknya penonton, karena gratis gitu loch, gak bisa dipungkiri kalau yang gratis apalagi langka biasanya peminatnya banyak toch - terakhir diketahui penonton mencapai 400 orang termasuk kapolsek hehehe.....kita beranjak dari Jakarta sekitar jam 10.30 pagi...sampai di UI sekitar jam 11.30 siang, hitung-hitungannya setelah check and richeck lokasi, liat sikon terus masih keburu untuk makan siang.

Sampai di UI, susah-susah gampang mencari FIB, dan sempet bingung #norax sich tepatnya hahah...FIB itu singkatan apa toch ...Fakultas Ilmu Bahasa ??...karena takut dibilang once, googling ....ooooh ternyata FIB = Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya...tp kemana "P"nya yo ...ya wes lah...terserah aja...saya kan mau nonton TAoK, bukan nyari sejarah FIB.
Teeerus...dari pintu masuk arah Pasar Minggu (saya gak tau ini pintu masuk utama apa bukan) harus muuuuuuuuuuuuuter nun jauh dimato, melewati beberapa danau (sepertinya buatan), beberapa hutan, beberapa halte, beberapa tanda puter balik, beberapa nama jalan, dan beberapa fakultas...barulah ketemu itu yang namanya FIB....saking noraknya sampai saya berkomentar...wow....UI tuch kaya banget ya ...klu di UMB...1 or 2 fakultas bisa ada dalam satu gedung, di UI Depok...satu fakultas punya gedung sendiri yang besarnya hampir sama dengan satu gedung di UMB....haiyaaaaahhhhhh.....norax akut.

Beruntung banget ya yang bisa merasakan kuliah di UI, dapat tempat yang begitu asri, sejuk, gedung besar, mau guling-guling mah hayuk...mau mancing ? bisaaaa, mau berenang ? booooleh, mau bunuh orang juga gampang....#duh yang ini jangan yaaa.....ckckckc....

And you know what....kenoraanpun berlanjut...ternyata di dalam area UI tuch ada Pegadaian, ATM BNI disetiap fakultas, dan ternyataaaaa......- baru nyadar nich ceritanya, gedung pemutaran ini namanya gedung IX FIB UI...liat ya huruf 9 romawinya itu...artinya ada gedung 1, 2, 3 dst...jihaaaaaa...hahahah...

Tapiiiiiiiiiiiiii....ada sesuatu yang membuat saya quite shocking, kenapa di UI belum ada aturan mengenai MEROKOK. Bukan mau sombong tapi jujur sich BANGGA banget, UMB sudah menerapkan aturan "DILARANG MEROKOK DI AREA KAMPUS" daaaaan hebatnya lagi...tidak boleh ada kegiatan kampus yang didanai oleh perusahaan rokok. Duuuh ...bangga beneran deh...hal ini disampaikan sendiri oleh Bu Dekan Fikom tercinta...Ibu Diah Wardhani. Dan ya...dengan aturan yang ada, kita bebas dan tidak sungkan untuk menegur kalau ada orang yang merokok seenak jidatnya di area kampus.

Beda dengan di UI, memang mereka punya area halaman dan taman yang luas, dan kalau ada orang yang merokok, saya (mungkin) gak merasa begitu terganggu karena jangkauan asapnya gak nyampe ke saya, tapi akan berbeda jika situasinya di dalam lorong gedung perkuliahan, ditangga, di kantin, para smoker itu udah kayak kereta api, main kenceng-kencengan nyedotnya....duuuuh mak..mengganggu banget. 

Hal ini memalukan banget, UI yang setua itu, kaya, luas, mewah, megah - bah lebay..., ditambah lagi saya liat  banyak sekali pelajar asing (mungkin pertukaran pelajar kali ya) yang berseliweran. 
Sempet juga mention ke twitternya UI Depok @Univ_Indonesia, cuma nanya, kok sampe sekarang UI Depok tidak menerapkan mengenai aturan dilarang merokok di area kampus, tapi so far gak ada tanggapan tuch ...bingung kali ye jawabnya, atau mungkin dianggap gak penting, or mungkin sibuk motong rumput di hutan UI itu kali ye....well what everlah ya...

Screening Time
Tiba saatnya pemutaran film TAoK, molor sekitar 15 menit dari schedule yang diumumkan semula yaitu jam 1.15pm. It's okelah daripada mundur 1 jam or ngak jadi sama sekali gara-gara kehadiran orang ketiga diantara kita (baca : kapolsek). 

Dari awal saya sudah bisa membayangkan alur filmnya seperti apa, berkat dari menelaah berbagai sumber, tapi bagi yang belum, boleh jadi bingung dan kecewa. Jangan pernah membayangkan film nya bercerita seperti G30S PKI yang horor itu, memiliki alur cerita yang mampu dipahami dari anak kecil sampe kakek nenek - memang dibuat seperti itu kali ye...kan judulnya propaganda melalui film. 

Dalam TAoK diceritakan bagaimana seorang Anwar Congo, preman yang terkenal di Medan, tukang catut karcis bioskop, anggota Pemuda Pancasila, yang dulunya berprofesi sebagai seorang Jagal penumpas anggota (disiyalir anggota) PKI, yang sekarang ini hidup bebas serta kenal dekat dengan para petinggi negara, diterima dengan sambutan meriah disetiap acara partai , duduk dibarisan VIP, memiliki cucu dan kehidupan "normal" ditengah anggota masyarakat, yang pada akhirnya mendapat tawaran bermain dalam sebuah lakon berjudul "Arsan & Aminah (A&A)". Kalau saya ditanya, memang apa sich sebenarnya cerita A&A yang ditawarkan kepada Anwar? itu pula yang menjadi pertanyaan saya hingga saat ini. 

Potongan-potongan behind the scene pembuatan film dan cerita kehidupan pribadi Anwar dirangkai dengan amat sangat apik oleh sang director. Bagaimana seorang Anwar mengalami pergolakan bathin atas apa yang dilaluinya dimasa lalu. Di awal diceritakan bagaiman cara ia menghabisi nyawa-nyawa manusia dengan melilitkan kawat pada leher korban dengan ujung kawat satunya terikat pada tiang, kawat itu ditarik sekuat-kuatnya hingga mencekik leher korban dan si korban mengeluarkan ngerangan khas seperti kerbau yang digorok lehernya. Menurutnya cara ini dilakukan agar korban tidak mengeluarkan darah dan bisa mati dengan lebih manusiawi. Can u imagine..."mati dengan cara yang lebih manusiawi"???....Kegiatan ini dilakukan diatap sebuah bangunan disalah satu sudut kota Medan, dia tidak bekerja sendiri tentunya. Setelah korban tewas lalu mereka dimasukan ke dalam karung, diseret-seret lalu dijatuhkan ke lantai bawah, selanjutnya dibawa ke jembatan tidak jauh dari tempat itu yang dibawah mengalir sungai, disungai itulah para jagal membuang korbannya. 

Di waktu lain, diceritakan bagaiman ia menghabisi nyawa korbannya dengan cara menyeret tubuh korban yang sudah tidak berdaya karena telah dianiaya sebelumnya, lalu mereka meletakan kepalanya dibawah kaki meja, bersama-sama dengan beberapa temannya Anwar menduduki meja itu sambil bernyanyi riang hallo-hallo Bandung. Sesekali mereka mengecheck apakah sang korban sudah benar-benar mati atau belum.

Cerita lain lagi bagaimana cara dia membunuh korbannya didalam sebuah hutan karet yang gelap gulita. Dengan tangan terikat, mulut di sumpal, korban dipaksa duduk bersimpuh dan kepalanya diletakan diatas batang pohon, kemudian dengan kejinya Anwar memukul kepala korban hingga jatuh tersungkur dengan mata membelalak. Konon menurut Anwar, dia menyesali kenapa dia tidak menutup mata korban yang mati mengenaskan tersebut, dimana hingga kini datang menghantuinya saat tidur. 

Disisi lain digambarkan Anwar hanyalah manusia biasa, yang memiliki sisi kemanusiaan. Dimata cucunya ia adalah seorang kakek yang baik hati dan penyayang, hal ini digambarkan pada adegan saat ia meminta cucunya untuk minta maaf kepada itik (bebek) yang kakinya pincang akibat lemparan sendal cucunya. Spontan penonton tertawa karena bagaiman bisa seorang yang mampu mendeskripsikan dengan gamblang mudahnya membinasakan manusia memiliki rasa iba terhadap bebek dan dengan penuh kasih sayang mengajari sang cucu. 
Tiba pada satu titik Anwar harus memerankan korbannya, sempat beberapa kali adegan diulang dan katanya "saya sempat merasa hilang sekejap (saat tali kawat ditarik dilehernya) ..." dan setelah itu dia duduk lemas dan lunglai, sangat lelah. Bahkan saat melakukan review adegan tersebut, dia menangis dan mengatakan "saya salah...apa yang saya lakukan adalah salah".....
Ada scene dimana Anwar kembali ke atap gedung dimana dulu ia pernah sambil begoyang cha-cha menghabisi korbannya, kali ini berbeda, Anwar tidak seringan adengan sebelumnya, ia mulai muntah-muntah hingga berkali-kali saat membayangkan para korban itu bermandi darah.

Anwar memiliki seorang teman dekat yang sama-sama berprofesi sebagai seorang jagal dulunya. Namanya Adi Zulkadry. Adi terlihat sangat confidence dan lebih intelek dibandingkan dengan Anwar. Mengutip dari pernyataan Adi sendiri ketika ditanya tentang kejahatan-kejahatannya: “definisi-definisi kejahatan perang adalah buatan orang yang menang. Saya pemenang. Saya membuat definisi saya sendiri…. Besok akan ada konvensi Jakarta untuk tandingan konvensi Jenewa.” 

Saat ditanya bagaimana kalau apa yang ia lakukan suatu hari diperkarakan di Mahkamah International, dengan tegas ia menjawab "saya tidak takut, saya senang malah karena saya akan jadi terkenal"...hmmm menggelitik dan ironis. 

Adi berbeda dengan Anwar yang kian hari dihantui oleh perasaan bersalah, ia memilih untuk melupakan dan berfikir bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah sebuah kejahatan, mereka diperintahkan and they supposed to be a hero yang sudah membela negara Indonesia dengan menumpas PKI dan memang begitulah mereka dianggap selama ini. Film ini seakan ingin mengatakan kepada kita, yuk bangun dari mimpi, buka mata, ayo bertanya apa sebenarnya yang terjadi dimasa lalu, kami ingin tahu kebenaran masa lalu, jangan lupakan dan simpan borok itu karena akan menjalar, busuk dan melemahkan mental bangsa. 

Discussion
Sessi diskusi tiba setelah sekitar 2,5 jam pemutaran film. Diskusi dibawakan oleh Manneke Budiman, pengajar sekaligus kritikus sastra kontemporer, bersama para nara sumber yaitu Summa Mihardja (sisi Hukum), Reinhardj Sirait (pengamat film) dan Hilman Farid (dosen sejarah di UI). 
Awalnya diskusi di setting diatas panggung dan ada bangku-bangku untuk para narasumber, mungkin karena pertimbangan ingin lebih ngeblend mereka memilih untuk duduk-duduk santai dibibir panggung. Tidak cukup sampai disitu, sesi pertama seharusnya mendengarkan pandangan para narasumber dibalik justru mendengarkan opini penonton terlebih dahulu. Menurut saya, ini sebuah improvisasi kecil yang implikasinya sangat besar #sip masuk kantong untuk bahan pembelajaran how to communicate...
Suma, Reinhardj, Hilman, Manneke




Satu-satu para penonton melemparkan opini, namun sayang waktu yang terbatas sehingga baru berasa "panas" diskusi berakhir, saya yakin jika waktu diskusi lebih panjang akan lebih banyak opini yang menyeruak keluar. Beberapa yang ingin saya garis bawahi dalam sessi diskusi ini:

1. Hilman : dalam kaitan bagaimana cara yang dapat kita tempuh agar dapat lebih dalam lagi menggali guna mendorong dibukanya arsip sejarah terkait pembantaian G30S adalah dengan cara bertutur, mendongeng. Pada dasarnya manusia suka bercerita. Marilah mulai mencoba bertanya kepada kakek, nenek, orang-orang tua yang mungkin mengalami dan ikut terlibat dalam kejadian tragis itu. Dari sana mungkin kita akan mengetahui kejadian yang sebenarnya dari berbagai sisi. Selain itu menyebarkan semacam angket atau questioner, dari sana siapa tahu terkuak sesuatu yang selama ini belum pernah kita ketahui. 

Mengenai hal ini, dari sisi saya sebagai orang yang mendalami masalah komunikasi, social media patut dijadikan salah satu cara jitu bagaimana mengkomunikasikan berbagai pemikiran yang muncul. Kembali pada prinsip AIDA diawal yang saya bicarakan. Menggelar acara dan diskusi-diskusi sehingga memancing orang untuk berfilsafat, tidak terlalu paranoid terhadap issue PKI, atheis, komunis dst. Jangan takut terkena cuci otak, kita tidak tahu mana fantasi dan mana fiksi dalam situasi semacam ini. Jika sudah mulai merasa terhanyut jauh, bangun, bangkit, kembali pada kesadaran dan berfikir logis, out of the box dan berusaha sekomprehensif mungkin dalam membuat suatu penilaian.

2. Reinhardj : menurutnya kita sebaiknya membiarkan film seperti TAoK ini diputar bebas dimasyarakat, jangan khawatir terhadap konflik yang mungkin terjadi, biarkan konflik itu bergulir, jangan ada lagi pembatasan terhadap pemutaran film ini. Yang kedua, jangan kita menjadi iba dan kasin melihat seorang Anwar dengan "sakit saraf" nya, setelah melihat dia menangis dan semakin merasakan penderitaan korbannya. 

Saya rasa jika acara serupa digelar sebaiknya menghadirkan lebih banyak narasumber, misalnya dari sisi psikologi, sosial budaya, komunikasi dan tentu saja pelaku sejarah itu sendiri. Dengan demikian kita akan mampu mencernanya dengan lebih komprehensif. Rasanya akan tidak etis jika film ini diputar dan semua kalangan melihatnya terutama anak kecil, lalu apa bedanya kita dengan yang dilakukan pada masa orba, menjejali anak sekolah dengan tontonan sadis, mencuci otak mereka, menjadi parno terhadap yang namanya tidak boleh disebut wakakaka...PKI maksudnya bukan Lord Voldemort. Selain itu, yang perlu kita ingat adalah Anwar tetaplah seoarang manusia, he is human being, kalau kita langsung saja menjudge dia seorang psikopat lalu siapa kita ini ? kita ini adalah dia yang selama ini mungkin tidak menyadari ada banyak kejanggalan selama ini yang selalu ditutup-tutupi. 

3. Suma : Kita harus selalu bertanya dan bertanya  serta "memaksa" agar pemerintah mau membuka arsip sejarah, meminta maaf dan mampu meluruskan sejarah. Memberikan kebebasan agar malakukan berbagai diskusi serupa. 

Dan dari beberapa penonton yang sempat memberikan opini, mereka mempertanyakan, apa sich sebenarnya yang menjadi tujuan Joshua, kenapa kebanyakan orang asing yang jusru lebih berani dalam membuat cerita yang kontroversi semacam ini - Amerika, perjanjian macam apa yang terjadi antara Joshua dan Anwar beserta rekan-rekannya sehingga mereka mampu tampil dengan "bodohnya". Ada pula yang berpendapat kenapa kok bisa ada penonton yang tertawa melihat film ini. 

Untuk yang terakhir saya rasa yang dia maksud adalah Erman, seorang preman Medan, teman Anwar yang berperan sebagai Aminah. Dia berperawakan gendut, perut buncit, memiliki seorang anak perempuan. Di kisahkan dia didandani layaknya seorang banci, berdandan penari kabaret berwarna merah layaknya seorang badut, make up yang tebal dan warna warni. Secara spontan penonton akan tertawa melihat adegan ini, namun jika ditelaah lebih jauh, hal ini seperti ejekan, tamparan, karena ada orang dengan kebodohannya mau diperlakukan seperti itu. Erman digambarkan representasi rakyat Indonesia, yang bisa mendadak mencalonkan diri menjadi caleg, melakukan kampanye dengan mobilnya sambil berorasi, membagi-bagikan selebaran. Namun Erman kalah karena tidak punya uang, tidak punya modal dalam melakukan kampanye, Erman hanya modal dengkul semata. 

Saya masuk pada kesimpulan bahwa setelah menonton film TAoK, akan muncul berbagai pertanyaan dalam benak kita, menjadi lebih kritis terhadap lingkungan dan pendapat lingkungan sekitar kita. Jika kembali mendapat kesempatan, saya akan menonton dan ikut kembali dalam diskusi film ini. 

 
 

Jumat, 15 Februari 2013

Asap Rokok Lebih Kejam dari Kentut!

Sering kali gw gak jadi makan disuatu lokasi tempat makan hanya karena tempat tsb tidak menerapkan aturan dilarang merokok. Ada faham yang mengatakan ngerokok itu paling enak kalau habis makan. Mungkin hal ini kali ya yang adalah di benak para smoker itu...habis makan, ngobrol2 sambil menghisap rokok. Atau ada juga yang demen banget ngerokok saat cuaca dingin, seperti saat hujan, atau klu jalan2 ke daerah puncak....duh tu para smoker....kek mo demo....maen kenceng2an nyedotnya

Buat gw urusan rokok urusan global yang susah banget ditumpasnya tp bukan berarti gak bisa kita hindari sama sekali. Langkah pertama yang bisa dilakukan mulai dari diri sendiri dulu kemudian keluarga dan lingkungan rumah yang bebas dari asap rokok, bebas disini artinya tidak ada yang boleh merokok, tidak terkecuali...bukan bebas boleh ngerokok ya...

Kalau sesuatu itu lbh banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya mendingan tinggalin aja, selain itu memang ada fatwa yang mengharamkan rokok. Faktanya tidak ada satupun informasi medis yang bisa memberikan manfaat rokok. Para smoker adalah para pendalih tentang manfaat rokok.
Buat gw merokok adalah tentang mindset seperti juga tentang hal lainnya. Jika ingin berhenti merokok maka rubahlah mindset.

Paling sebel liat orang merokok ditempat yang jelas-jelas ada larangan tidak boleh merokok. Gaya perlente tapi dijari terselip rokok dan diatas kepalanya ada tulisan "dilarang merokok di dalam gedung ini". Pengen timpuk rasanya ...secara ya...gaya dapet, tampang dapet, intelek, wangi, jambul rapi tapi ngerokok....dodong banget rasanya.
Yang begini nich...pertama diliatin, gak ngerti juga, baru pelototin, gak ngerti juga...tegor aja...ampe gak ngerti juga....omelin aja....

Kita tuch harus berani menegur orang macam ini....ya laaah....asap rokok lo bukan hak gw. Boleh ngerokok kalau asapnya lu telen sendiri.
Buat gw, asap rokok itu lebih kejam dari kentut. Gimana tidak, kalau kentut kan masih ngumpet2 dan gak ada yang tau, tapi kalau rokok, udah jelas-jelas penjahatnya malah seenak2nya menzolimi hak orang lain untuk menghirup udara bersih tanpa asap rokok.



Gen Communications Presentations

Akhirnya UAS tiba juga...setelah kerja keras dan menunggu-menunggu selama hampir 6 bulan untuk mempresentasikan karya kita dan mengeluarkan ide-ide kita. Berikut ini beberapa dokumentasi yang sempat kita ambil...

Dapat giliran no 1, borong 3 meja, ehhh taunya di jatah cuman 1...gak muuuaaatt...akhirnya di ksh 2 meja..



Serius banget mendalami materinya ..

Dandan duluuuuu...wakakaka...Vina & Dina 
  
Stlh di dandanin sama si Dina...

Ampe bawa 3 alt jilbab...wakakak...ini baru namanya NIAT




Akhirnya kelar juga....dan Alhamdulillah dapat nilai A untuk Gen Comm Team....Sukses!

Kamis, 27 Desember 2012

Company Profile Book Design | Gen Communications Project

Menjelang akhir tahun 2012 dengan beberapa tombol keyboard gw yang gak berfungsi, keinginan untuk ngeblog mendadak nongol lagi. Kali ini gw pengen cerita tentang perubahan design untuk company profile Gen Communications....tadinya di design menggunakan ukuran kertas A4 trs berubah ke ukuran 16 cm x 16 cm, awalnya gw pikir udah pas nich dengan design lama..eh entah kenapa mendadak galau dan setelah di kutak katik ketemu juga komposisi yang pas banget, seakan satu kerjaan berat dah kelar untuk kelas Management Reputations.

Bukan pengen sok-sok an sich, tapi yang ada dipikiran gw waktu merubah total lay out ini adalah BREAKING THE RULES....compro tuch gak harus A4 kan, gak harus keliatan formal banget kan...ini juga gara2 abis ngeliat design undangan yang lucu dan elegan dari resto2 dan cafe2 yang ngundang boss gw. udah deh gak usah banyak cakap, here's this our new compro 2012.....










Senin, 03 Desember 2012

Review Iklan Pokkit KFC versi Cinta Laura

Sumber : http://jnynita.wordpress.com/2012/10/29/pokkits-kfc/

KFC mengeluarkan product terbaru called Pokkit, sepertinya sich plesetan dari kata Pocket. Bintang iklannya Cinta Laura, masih dengan logatnya yang aneh - i think her English accent is over act. native speaker never speak that way. 



Iklannya bisa dicek disini : http://www.youtube.com/watch?v=_zqFcNmOGHY


Kalau menurut kacamata gw, iklan dan cara KFC mengedukasi konsumen gak banget, kenapa? Karena intinya tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dimasyarakat Indonesia pada umumnya.

1. Sesuai dengan namanya, product ini di taronya di kantong, mungkin maksudnya istimewa ya, cemilan yang simple, life style. Tapi kenapa harus kantong celana? Bagian belakang pula. Mana pantes sich makanan di taro di celana gitu? Lagian pada prakteknya susah kale di taro di saku celana, kedudukan ? meleber deh kemana-mana. Kan bisa di taronya di saku baju gitu, dibanding (maaf) pantat, gak etis banget deh gw bilang.

2. Di dalam iklannya, si bule nanggung Cinta Laura beradegan sedikit menggoda cowok yang melintas di depan dia sambil makan pokkit, bukan cuma adegan menggodanya itu yang gak banget ya….tp makan sambil jalan. Gak sekalian mpok, makannya sambil bobo.

sebagai perbandingan iklan Pokkit by KFC Malaysia, keknya msh lbh sopan ya ...cekidot videonya dibawah :


Jumat, 05 Oktober 2012

MR Chapter 2

Melanjutkan cerita tentang poject Gen tempo hari, setelah dapat bentuk logo dan philosophynya barulah kita semua bisa "kerja" mendevelopt concept organisasi Gen Communications itu sendiri. Berangkat dari logo kita bisa lanjut mendesign kartu nama, ID card, kop surat, amplop perusahaan, website, compro, baju seragam daaaaaaan semua tetek bengeknya....berikut beberapa hasilnya :
Rencananya saat presentasi di kita pake seragam ini.
ID Card - juga nanti di aplikasikan betulan
Kartu nama

Compro - Cover Belakang
Company Profile Cover Depan

Masih pelu perbaikan di halaman yang ada fotonya, karena blm pakai seragam      



Kamis, 04 Oktober 2012

Management Reputations Project

Setiap kali ngerjain satu project dari kampus tepatnya tugas, pikiran gw pasti selalu inget temen gw yang pernah bilang waktu gw bingung nentuin jurusan yang mau gw ambil di UMB. Dia bilang, loe masuk PR aja kek gw, soale jurusan PR itu buat gw menyenangkan, banyak naik turunnya, penuh dinamika dan gak monoton, pokoknya seru deh. Dan bener aja....PR itu emang seru.Cobain aja....

Semester ini, gw dan temen2 di kasih project ngebuild satu company yang bergerak tentunya dalam bidang ke PR an, what ever it's lah namanya, logonya, orangnnya intinya berhubungan dengan dunia komunikasi. So kebetulan mahasiswanya buanyak bener dalam satu kelas, tepatnya 50 an orang, efektif gak tuch ye...auh ah gelap,...yang penting gw belajar sebaik mungkin dan metik sebanyak mungkin ilmu dan pengalamannya. Kebetulan di kelas gw, maksudnya yang satu angkatan sama gw, itu gak banyak, karena udah pada mencar2 anak2nya, so hampir 1 angkatan gw tergabung dalam 1 kelompok kerja. Timnya terdiri dari 8 orang, paling banyak nich...harusnya cuman 6-7 orang, yah gpp deh nawar 1 hihihih.....

Pertama kita buat dan focus ke build company nya dulu. mulai dari pencarian nama, bentuk logo dan philosophynya, create kartu nama, id card, kop surat, compro, baju seragam....seru banget dan menarik. intinya sich jgn terlalu banyak di pikir, make it simple aja klu kita udah di uber waktu, soale kita juga beralih focus sama masalah client kita yang tentunya gak kalah rumitnya. Sebenernya bukan hal yang sulit sich, soale semester terdahulu kita udah pengalaman ngerjain project yang sama, cuman bedanya kalau dulu sendiri-sendiri, gak kelompok. Jadi satu semester ngerjainnnya ituuu aja, at the end kita semua puas soale bisa punya portofolio masing-masing.

Kembali ke project Management Reputations, walhasil temen gw bisa create logo company kita...nich dia penampakannya
Arti logo kira2 begini :

"GEN diambil dari kata GENERATION, dalam hal ini artinya generasi-generasi PR angkatan 16 Universitas Mercubuana, Jakarta.
Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Reputasi maka dibentuklah sebuah consultant PR yang diberi nama GEN COMMUNICATIONS.
Warna hijau mewakili kehidupan, kesegaran, lingkungan hidup dan pembaharuan, dalam logo ini warna hijau diartikan bahwa generasi yang tergabung dalam GEN COMMUNICATIONS adalah generasi yang mencintai lingkungan, yang selalu memiliki ide-ide segar serta selalu memperhatikan eco friendly pada setiap produknya"

Setelah logo dapet baru deh kita bisa menentukan "warna" portofolio kita. Buat saya semua harus inline dan satu tema dengan logo, ibaratnya ini adalah akar dari semua sesuatu yang mau kita build nantinya tentang company kita.